Cuplikan Novel Fiksi Clarissa

Cuplikan Novel Fiksi Clarissa

Pertempuran Dracula dengan Gunderewo.

Disebuah kuburan tua di Bandung, cuaca gelap tidak membuat membuat surut langkah Ardi dan Clarissa untuk menuntaskan perseteruanya. Dengan amarah yang memuncak keduanya bertekad untuk menuntas dendam kesumatnya.

Clarissa yang sudah datang duluan, duduk disebuah batu nisan. Rambut panjangnya terurai angin. Matanya terpejam, bibirnya tak henti komat-kamit mengucapkan mantra-mantra.

Tidak begitu lama duduk menyendiri, Ardi datang menepuk pundak Clarissa: “Claris….” Clarissa menoleh kearah Ardi. Matanya yang pelan berubah kemerahan, kembali menjadi normal. Gigi taringnya yang kian memanjang, terkatup kembali.

“Kamu, Ardi…” Clarissa menepis tangan Ardi dari pundaknya.

“Tak seharusnya kita melakukan hal ini, Clariss…” kata Ardi pelan.

“Tidak, Ardi… ini harus dituntaskan. Hawa panas dalam tubuhku ada pada dirimu.” “Menjauhlah dari diriku dan bersiap-siaplah mengeluarkan segala kemampuanmu.” Clarissa mendorong badan Ardi agar menjauh darinya. Ia duduk diatas batu pusara, tanganya bersedekap didada. Matanya yang semula sayu, kian memerah berwarna darah segar. Tanganya yang semula diliputi kulit putih nan halus, kini berbulu dengan kuku-kukunya yang tajam. Gigi taringnya memanjang semakin runcing, sanggup merobek daging apapun. “Aaarh….” Ia menyeringai memamerkan taring runcingnya.

“Baiklah Clariss, jangan salahkan aku, karena telah kuperingatkan,” jawab Ardi. Ia menjauh beberapa meter dari Clarissa, lantas Ardi duduk bersila. Mulutnya komat kamit mengucapkan mantra-mantra. Tubuh Ardi mengeluarkan asap, kian lama kian tebal menghitam.

Clarissa terbang melayang menyerang Ardi dengan kuku-kukunya yang tajam. Namun tubuh Ardi tidak bisa ditembus karena dileputi asap hitam hinggan Clarissa surut beberapa langkah.  

Komentar